Sebuah studi global yang dirilis pada 24 Agustus 2026 mengungkap adanya kesenjangan harapan hidup yang semakin lebar antara angka harapan hidup secara umum dan harapan hidup sehat. Temuan itu menunjukkan bahwa perpanjangan umur tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah tahun yang dijalani dalam keadaan sehat.

Menurut studi tersebut, harapan hidup sehat—yang mengukur jumlah tahun hidup tanpa kecacatan berat atau penyakit yang memengaruhi kualitas hidup—hanya mencakup sekitar 84% dari peningkatan angka harapan hidup secara global. Angka ini menjadi sorotan karena mengindikasikan ada tambahan tahun hidup yang mungkin diwarnai oleh penyakit atau kondisi kesehatan kronis.
Kesenjangan harapan hidup: temuan utama
Hasil penelitian menempatkan sorotan pada perbedaan antara kuantitas dan kualitas hidup. Meski angka harapan hidup di banyak tempat terus meningkat, tidak semua peningkatan tersebut tercermin dalam penambahan tahun-tahun hidup yang benar-benar sehat. Dengan kata lain, beberapa tambahan tahun hidup justru diisi oleh kondisi kesehatan yang menurun atau ketergantungan pada layanan kesehatan.
Studi ini menegaskan bahwa perhitungan tradisional soal umur tidak cukup untuk menggambarkan kesejahteraan jangka panjang masyarakat. Peneliti menyatakan bahwa mengukur kesehatan hanya lewat angka harapan hidup bisa menutupi beban penyakit yang dialami individu selama bertahun-tahun.
Apa itu HALE dan arti persentase 84%
HALE, atau harapan hidup sehat, berfungsi sebagai indikator yang mencoba menangkap berapa lama orang diperkirakan hidup dalam keadaan sehat, bukan sekadar hidup lama. Dalam temuan studi, HALE secara global hanya mencapai sekitar 84% dari peningkatan angka harapan hidup, artinya sebagian dari tambahan umur tidak tercermin sebagai tahun hidup yang sehat.
Persentase tersebut memberi gambaran kasar tentang berapa besar proporsi waktu hidup tambahan yang dihabiskan dalam kondisi sehat. Angka 84% menimbulkan pertanyaan penting terkait distribusi beban penyakit dan efektivitas sistem layanan kesehatan dalam menghadapi tantangan penuaan dan penyakit kronis.
Dampak terhadap kebijakan kesehatan publik
Kesenjangan antara harapan hidup dan harapan hidup sehat berimplikasi pada perencanaan kebijakan kesehatan. Bila peningkatan umur tidak diiringi perbaikan proporsi tahun-tahun sehat, beban perawatan dan kebutuhan layanan kesehatan jangka panjang cenderung meningkat. Hal ini dapat mempengaruhi prioritas pembiayaan, pengembangan layanan rehabilitasi, serta program pencegahan penyakit.
Pengambil kebijakan di berbagai negara perlu mempertimbangkan bahwa target kenaikan angka harapan hidup sebaiknya disertai upaya memperpanjang masa hidup sehat. Tanpa perhatian pada kualitas hidup, perpanjangan umur berisiko memperbesar tekanan pada sistem kesehatan dan sosial.
Tantangan bagi sistem kesehatan dan masyarakat
Studi ini membuka diskusi mengenai kesiapan sistem kesehatan dalam merespons perubahan demografi dan pola penyakit. Kesenjangan yang ditemukan menandakan perlunya strategi yang tidak hanya menargetkan penurunan angka kematian, tetapi juga peningkatan kualitas hidup sepanjang siklus umur.
Di samping itu, ada kebutuhan untuk mengintegrasikan pendekatan promotif dan preventif agar tambahan tahun hidup tidak otomatis menjadi tambahan tahun dengan gangguan fungsi atau kebutuhan perawatan. Pendekatan lintas sektor, termasuk lingkungan, pendidikan, dan ekonomi, juga relevan untuk mengatasi faktor-faktor yang memengaruhi kualitas hidup.
Langkah yang dapat dipertimbangkan
Meskipun studi ini tidak merinci langkah operasional, temuan tentang HALE yang hanya mencakup sekitar 84% dari peningkatan angka harapan hidup menggarisbawahi perlunya peninjauan ulang prioritas kesehatan publik. Penguatan deteksi dini, promosi gaya hidup sehat, serta layanan perawatan terintegrasi menjadi elemen yang layak dipertimbangkan untuk mempersempit kesenjangan tersebut.
Peningkatan investasi pada pencegahan penyakit kronis dan program yang mendukung kemandirian lansia bisa menjadi bagian dari respons jangka panjang. Selain itu, pemantauan indikator kesehatan yang lebih holistik diperlukan agar pengukuran keberhasilan kesehatan masyarakat tidak semata-mata berdasar pada usia harapan hidup.
Temuan studi ini menjadi pengingat bahwa perpanjangan usia tidak otomatis berarti perpanjangan kualitas hidup. Untuk memastikan manfaat demografis tercapai secara menyeluruh, perhatian pada bagaimana orang hidup—bukan hanya berapa lama mereka hidup—harus menjadi bagian sentral dari kebijakan kesehatan dan perencanaan sosial ke depan.





